Sabtu, 23 September 2017

Hati

pict by google


Wahai dirimu, bagian paling rapuh dari raga ini. Aku tahu hidup ini tidak selalu menyenangkan. Sedih dan bahagia sering datang beriringan. Semua yang kita ingin dan harap tidak selalu terwujud dalam nyata. Tuhan punya cara sendiri untuk mengaturnya. Kita hanya perlu sesering mungkin bersyukur bukan menuntut. Melihat ke atas mengambil hikmah dan menunduk untuk menggali pelajaran hidup. Meski terkadang ego memaksa menjadi raja. Menguasai dirimu dan pikiran tanpa batas. Siapa yang bisa mengendalikan? Hanya kamu yang mampu meredam semua amarah dari keegoisan yang datang. 

Wahai dirimu, bagian paling murni dari raga ini. Aku tahu, luka karena kecewa memang tidak bisa dihentikan. Ini bukan yang pertama. Dulu, kamu terluka karena dia yang kau beri cinta tulusmu. Sayangnya, dia tidak bisa merasakan itu. Kamu jadi perlu waktu untuk mengikhlaskan dan menerima keputusan Tuhan. Memang butuh waktu lama, tapi aku yakin kamu bisa lewati itu. Dan aku semakin yakin, kamu bisa menerima dia sebagai apapun yang Tuhan cipta. Katamu, cinta itu tidak harus bersama. Katamu, cinta itu memberi dengan tulus. Katamu, cinta itu tidak harus diketahui. Katamu, cinta itu soal rasa bukan paksa. Dan katamu, mencintai itu tentang bagaimana kamu bisa melihat dia bahagia dengan pilihannya. Kau tahu aku menyukai semua katamu.

Wahai dirimu, kali ini aku membuatmu terluka kembali. Aku membuatmu semakin rapuh dari hari ke hari. Entah apa yang kupikirkan sebelumnya. kali ini aku benar-benar minta maaf. Aku melupakan pengalaman pahitmu dulu. Aku tidak akan berjanji untuk sesuatu yang belum terjadi. Aku hanya berusaha melindungimu. Menemukan dia yang bisa menerimamu diwaktu tepat yang Tuhan takdirkan untukmu.

Tidak Punya Malu

Pict by Pinterest Tentang perjalanan hidup yang tidak pernah kita ketahui akan seperti apa, tapi masih bisa direncanakan dengan baik m...